Rabu, 30 September 2015

LAGI-LAGI KOTAKU MACET PIKIRANPUN PUN MENJADI SUMPEK


Ruang publik, di kepala kita adalah ruang-ruang yang bisa digunakan orang banyak. Yah, kurang lebih seperti itu taman, lapangan bola, sampai mall pun bisa disebut ruang publik. Tetapi ada satu ruang publik yang mungkin terlupakan, karena seringnya kita tidak merasakan langsung ruang publik tersebut, yaitu jalan raya.
Kalau di tempat ramai seperti restoran atau taman, kalau kita berisik kan pasti minimal dipelototi orang-orang sekitar, apa lagi kalau kita sudah pada tahap sangat mengganggu. Pastinya terjadi cekcok atau debat. Sebelum itu terjadi, pasti ada teman atau keluarga yang sudah menegur duluan, ‘jangan berisik, nanti yang lain terganggu’. Intinya, di ruang publik, kita diajarkan untuk ikut memikirkan orang lain, paling tidak menghindari konflik dengan orang lain.
Jalan raya sebenarnya merupakan rentetan ruang publik yang terbesar yang bisa dimiliki sebuah kota, karena satu jalan digunakan beramai-ramai oleh siapa saja, pejalan kaki sampai pengendara truk sekalipun. Demi alasan keamanan, tentunya, ruang yang disediakan untuk pejalan kaki dan pengguna kendaraan itu dibedakan, meskipun hal ini banyak tidak dipenuhi. Akhirnya, jalan raya menjadi ruang publik yang berantakan, yang peruntukannya jadi kurang jelas dan mudah terjadi konflik. 
Jalan raya adalah ruang publik yang digunakan oleh beragam manusia dengan berbagai karakter. Sebagai salah satu ruang publik, tentu penggunaan jalan tidak bisa dimonopoli oleh segelintir orang atau suatu lembaga. Semua harus bisa saling menghargai dan berbagi penggunaan jalan raya, penggunaan jalan raya untuk kepentingan pribadi harus dengan izin-izin pihak terkait, terutama pengguna jalan yang lain, warga sekitar. Akan lebih baik jika orang atau lembaga yang mengadakan acara di dekat jalan raya tidak mengganggu pengguna jalan yang lain, yang dapat menimbulkan kerugian baik waktu ataupun materi.
Kota merupakan jantung dari suatu daerah, provinsi dan Negara. Pusat segala kegiatan baik itu yang berhubungan dengan pemerintahan, pendidikan, perekonomian dan masih banyak sesuatu hal yang terjadi di kota. Orang-orang di Desa banyak yang mengadu nasib di kota terlebih di kota Jakarta yang tiap tahunnya tambah terus angkatan kerja di sana, disusul dengan Bandung, Semarang dan Surabaya. Bertambahnya populasi di perkotaan ini perlu perhatian dari semua pihak baik dari keluarga sendiri maupun lembaga-lembaga terkait yang berhubungan dengan hal ini.  Karena tidak menutup kemungkinan kemacetan di jalan akan bertambah kalau tidak diimbangi jalan raya yang kondusif, dalam hal ini bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja kita juga selaku pengguna jalan harus mengerti diri karena jalan umum merupakan kepentingan kita semua bukan hanya segelintir orang atau badan usaha saja.
Tentunya sudah banyak artikel maupun opini yang dimuat di surat kabar, majalah ataupun siaran berita yang membahas masalah kemacetan, saya hanya menambaih informasi tentang hal ini menurut pengalaman saya pribadi selaku sopir panggilan. Pernah di suruh orang ke Malang, Madura, Surabaya, Jombang, kalau Rembang dan Tuban hampir tiap hari, kemudian Pati, Kudus, Semarang, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Sampai Bekasi.
Pernah suatu waktu ketika salah satu perguruan tinggi di bandung mau mengadakan wisuda kebetulan anak bos saya juga mau wisuda saat itu, dia minta berangkatnya habis subuh tepat karena dia bilang kalau pagi sedikit akan terkena macet sehinga akan telat nanti pada acaranya. Belum lagi kemacetan-kemacetan di kota besar umpamanya Jakarta, di malang juga pernah pas kebetulan hari itu pihak kampus mau mengadakan rapat bos saya masih ditengah perjalanan terjebak dalam kemacetan. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh hanya lima belas menit menjadi dua jam setengah perjalanan akhirnya mengahdiri rapatnya telat, makanya saya itu senang kalau bepergian ke kota-kota sekitar jam sepuluh malam keatas sampai pagi sekitar jam enam, karena waktu jam sepuluh malam sampai jam enam pagi jarang sekali macet.
Belum lagi di daerah-daerah tertentu misalnya di jalan pantura Sarang kabupaten Rembang Jawa Tengah kalau salah satu tokoh Agama Pondok pesantren mengadakan acara besar seperti Haul (acara tiap tahun untuk memperingati wafatnya sesepuh mereka), ini bisa seharian macet, kebetulan malam itu saya mau keluar bersama bos ke salah satu pengajian di daerah selatan Sarang mau keluar di pintu garasi ada mobil parkir otomatis mobil yang mau saya kemudikan tidak bisa jalan terus saya menghubungi panitia bagian parkir dia pun tidak berhasil katanya takut mau menghubungi yang bersangkutan karena acaranya sedang dimulai terpaksa kami pergi menggunakan sepeda motor.
Saya sangat prihatin kalau keadaannya demikian, kasihan kepada Bis-bis yang mengejar waktu, mobil-bobil pribadi, mobil pengangkut barang yang sudah ditunggu-tunggu oleh kliennya. Menurut saya ruang publik jalan raya ini merupakan sesuatu yang vital berhubungan dengan saya selaku sopir jadi sedikit banyak tahu akan kondisi jalan, yang lebih membuat saya geregetan kondisi jalan katakan diperuntukan hanya kendaraan ringan tetapi dipakai oleh mobil yang besar yang berkapasitas ratusan ton bagaiman tidak cepat rusak jalannya wong itu bukan standarnya.
Kondisi jalan yang macet memang bukan yang kita harapkan karena akan mengakibatkan terjadinya waktu yang tidak efektif, seharusnya waktu bisa kita gunakan untuk memproduksi barang atau untuk mengantarkan jasa ke tempat tujuan malah habis di tengah jalan, bukan itu juga jatah bahan bakar jadi tambah yang seharusnya cukup dua ratus ribu malah menjadi tiga ratus ribu rupiah, dengan keadaan ini siapa yang tidak kesal hati pun menjadi sumpek. Contoh lagi keadaan kalau sore di Duduk Sampeyan Gresik Jawa timur itu macet lumayan ada setengah jam, setengah jam ini kan lumayan kalau untuk perjalanan bisa menempuh jarak 30 KM.
Menurut saya untuk mengatasi kemacetan yang pernah saya lihat dan saya alami mungkin diantaranya begini, pertama untuk kemacetan yang berada di dekat tempat tinggal saya sendiri yaitu di jalur pantura Sarang Rembang ketika diadakannya haul Pondok Pesantren, ini merupakan event besar para tamu undangan dari berbagai kota, sebaiknya panitia menyiapkan tempat parkiran khusus untuk para tamu undangan yaitu di lapangan sebelah selatan lokasi acara, disana ada tiga lapangan. Satu lapangan diperuntukan khusus untuk mobil pribadi karena untuk Bus akan sulit Mobil-mobil parkir di lapangan tersebut kemudian penumpangnya untuk menuju ke lokasi naik becak, kemudian dua lapangan yang lainnya bisa untuk parkir bus atau elf karena jalan agak lebar, penumpangnya juga menuju ke lokasi naik becak, berkorban sedikit mengeluarkan recehan, kemungkinan kalau seperti itu di jalan utama pantura tidak macet selain itu bisa menambah penghasilan bagi tukang becak karena ada suatu event yang berkah, berkah bagi semuanya.
Para pedagang jangan menggelar dagangannya di tepi jalan pantura alangkah baiknya di tepi jalan yang menuju ke selatan menuju ke tiga lapangan tadi, malah terlihat indah penumpang yang turun di tempat parkir sambil menuju ke lokasi acara sembari melihat-lihat aneka barang dagangan barangkali tertarik nanti bisa membelinya untuk bisa dimanfaatkan langsung atau sebagai oleh-oleh buat yang di rumah.  Bagi para pengguna sepeda motor seperti biasanya yaitu parkir di Madrasah Putri Ghozaliyah kemungkinan juga tidak menimbulkan kemacetan.
Kedua, solusi untuk kemacetan di Duduk Sampeyan Gresik alangkah baiknya di perempatan jalan dibuatkan fly Over, kemungkinan kemacetan tidak akan terjadi walaupun ada kemacetan itu saat pembuatan Fly overnya untuk sementara tetapi setelah itu fly over jadi kan jadi lancar arus lalu lintasnya daripada tidak di bangun tiap sore atau malah kadang-kadang macet, karena selain jalannya sempit di perempatan itu.
Ketiga, di kota-kota besar seperti Surabaya, Semarang, apalagi Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia yang sering menglami kemacetan, terutama di Jakarta karena disini kemacetannya lebih parah dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya
  1. Pemerintah membuat terobosan smart way ( jalan bebas hambatan bawah tanah yang bisa untuk mengurai kemacetan dan sekaligus juga bisa sebagai drainase banjir ).
  2. Membangun jalur Golden Ring, merupakan jalur bus yang terintegrasi seperti cincin yang menghubungkan antara halte 1 dengan halte lainnya, apabila anda tersesat tak usah khawatir karena bus hanya mengitari jalur tersebut.
  3. Konsep jalur kereta bawah tanah dihubungkan dengan Mall diatasnya, jadi tak usah repot-repot membawa kendaraan pribadi ke Mall dan hanya perlu membayar sekali tiket saja. Juga dapat terintegrasi dengan tempat pusat kegiatan ekonomi.
  4. Pihak Pemerintah menerapkan sistem pajak yang sangat tinggi terhadap kendaraan bermotor dan juga harga jual mobil yang sangat tinggi. Dan juga masyarakat hanya boleh menggunakan mobil yang sama selama 10 tahun saja.
  5. Menerapkan biaya parkir yang tinggi yaitu 25000 rupiah untuk per jamnya.
  6. Menerapkan plat bermotor berwarna merah dan hitam, untuk plat merah sendiri hanya boleh digunakan pada weekend saja dan pajaknya tentu leih murah daripada plat hitam, sedangkan plat hitam boleh digunakan setiap hari tetapi harus menanggung pajak yang tinggi.
  7. Aturan jalan berbayar atau Electronic Road Pricing (ERP) yang membuat para pengendara harus membayar retrebusi ketika memasuki suatu kawasan.
  8. Setiap kendaraan harus memiliki asuransi dan juga tidak diizinkan menggunakan menggunakan kaca film pada kaca bagian belakang mobil dan itu merupakan peraturan wajib bagi setiap kendaraan.
  9. Makin lama usia kendaraan maka makin mahal pula iuran pajak yang harus dibayar oleh si pemilik kendaraan.
  10. Biaya tol mahal, untuk sekali masuk tol harus merogoh kocek 100.000 rupiah untuk sekali masuk tol.
  11. Sarana transportasi umum yang nyaman,aman dan murah.
  12. Membangun kereta api bawah tanah yang Menciptakan bus yang nyaman dengan sistem yang tepat waktu antara halte ke halte.
  13. Membangun Monorail (kereta cepat) ayang terhubung antara 1 stasiun dengan stasiun lainnya.
  14. Membangun commuter line di jalan raya untuk mempermudah masyarakat untuk bepergian.
            Memang untuk mewujudkan hal tersebut memerlukan dana yang tidak sedikit, menurut saya lakukan saja daripada uang pemerintah dikorupsi yang menikmati hanya beberapa gelintir orang saja. Buktinya banyak penjajah dulu yang mengincar bumi pertiwi ini itu bukti bahwa Indonesia ini kaya untuk apa kalau tidak digunakan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyatnya. Seumpama Bung Karno sang proklamator bisa bangun lagi dari tempat peristirahatannya tentu beliau akan menangisi republik ini, dulu bersama-sama pejuang lainnya memperjuangkan tanah air ini, begitu sudah berhasil mengusir penjajah sekarang malah bersama-sama untuk menghancurkan Negara ini. Buktinya kita bukannya bersama-sama membangun Negara ini malah saling menjatuhkan, saling menjelek-jelekan, kalau seperti itu caranya sulit untuk mengharapkan republik ini maju, apalagi untuk mencapai Negara adidaya.
            Ada satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu babat habis para koruptor, karena merekalah salah satu penghambat pembangunan ruang publik Negara ini yang tidak maksimal. Sebagaimana orang Arab pernah berkata kepada salah satu TKW yang bekerja di sana “sebenarnya Indonesia itu kaya tetapi sayang banyak koruptornya”.

#hhd2015  #kemenpupr